Semua artikel

7 hal yang dulu dipercaya orang soal rokok

Dokter pernah jadi bintang iklan rokok dan pesawat punya bagian merokok. Tujuh keyakinan lama yang sekarang terdengar gila, dan apa artinya buat vape.

Diterbitkan Diperbarui Puff Counter Team 4 menit baca

  • sejarah rokok
  • mitos rokok
  • iklan rokok

Jawaban singkat

Generasi sebelumnya percaya dokter merekomendasikan merek rokok tertentu, filter membuat rokok aman, menthol lebih lembut untuk tenggorokan, dan bagian merokok di pesawat melindungi penumpang lain. Semuanya dibentuk oleh iklan, bukan bukti. Pola yang sama kini berulang pada vape dan produk tembakau yang dipanaskan.

Pada tahun 1940-an, sebuah kampanye iklan rokok di Amerika Serikat memakai satu kalimat yang sekarang terdengar seperti lelucon: lebih banyak dokter merokok merek ini dibanding merek lain.

Iklan itu berjalan bertahun-tahun. Orang percaya. Bukan karena mereka bodoh, tapi karena semua orang di sekitar mereka juga percaya.

Ini tujuh hal yang dulu masuk akal, dan sekarang terdengar mustahil. Bacalah sampai bagian terakhir, karena bagian terakhirnya tentang hari ini.

1. “Dokter merekomendasikan merek ini”

Kampanye dokter-merokok berjalan di Amerika Serikat kira-kira antara 1946 dan 1952, tepat ketika kecurigaan publik soal rokok mulai muncul.

Iklannya tidak pernah membuktikan rokok aman. Ia hanya menempelkan wajah profesi yang paling dipercaya orang ke produk yang sedang dipertanyakan. Itu strategi, bukan bukti, dan strategi itu bekerja selama lebih dari satu dekade.

2. “Kalau ada filternya, jauh lebih aman”

Filter datang sebagai jawaban atas kekhawatiran, bukan atas bukti. Yang berubah adalah rasa dan tampilan, bukan asapnya.

Yang terjadi berikutnya bahkan lebih pahit: banyak perokok mengisap lebih dalam dan lebih sering pada rokok berfilter, karena terasa lebih ringan. Jumlah zat yang masuk ke paru tidak berkurang. Kata “ringan” pada bungkus rokok kini dilarang di banyak negara justru karena alasan ini.

3. “Menthol lebih lembut, berarti lebih sehat”

Rasa dingin di tenggorokan dibaca otak sebagai “lebih bersih”. Padahal menthol bekerja dengan cara membius, bukan melindungi.

Efeknya justru berlawanan: karena asapnya terasa tidak sekasar biasanya, isapan jadi lebih dalam. Banyak otoritas kesehatan menyoroti menthol persis karena itu, dan karena rokok menthol cenderung lebih sulit ditinggalkan.

4. “Ada bagian merokok, jadi penumpang lain aman”

Selama puluhan tahun, pesawat punya baris kursi untuk merokok. Restoran punya meja merokok. Kantor punya sisi ruangan yang katanya bebas asap.

Tidak ada yang pernah menjelaskan bagaimana asap diminta berhenti di baris ke-17.

Penerbangan domestik di Amerika Serikat baru benar-benar bebas asap sekitar 1990, dan penerbangan internasional menyusul beberapa tahun kemudian. Di Indonesia, gerbong kereta dan angkutan umum baru benar-benar steril dari asap dalam belasan tahun terakhir. Buat sebagian orang, itu masih dalam ingatan hidupnya sendiri.

5. “Sebatang dua batang waktu hamil nggak apa-apa”

Ini yang paling berat untuk dibaca sekarang, tapi memang begitulah keadaannya di banyak tempat sampai tahun 1970-an.

Bukti soal berat lahir rendah, kelahiran prematur, dan komplikasi lain baru menumpuk kemudian. Sekarang tidak ada satu pun otoritas kesehatan yang menyebut ada jumlah aman selama kehamilan.

6. “Asap orang lain cuma bau, bukan bahaya”

Asbak dulu adalah perabot rumah standar, sering jadi hadiah pindah rumah. Merokok di dalam mobil bersama anak-anak bukan hal yang dikomentari siapa pun.

WHO kini memperkirakan asap rokok orang lain menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian setahun pada orang yang tidak pernah merokok. Angka itulah yang mengubah asap dari urusan sopan santun menjadi urusan kesehatan publik.

7. “Ini urusan pilihan pribadi”

Ini mitos yang paling awet, dan paling menguntungkan satu pihak.

Rokok mensponsori konser, turnamen olahraga, dan beasiswa. Iklannya ada di jalan, di warung, di televisi. Bertahun-tahun sebuah keputusan yang dibentuk oleh miliaran biaya pemasaran dijual sebagai “pilihan bebas”.

Di Indonesia, iklan rokok di televisi masih diizinkan pada jam tertentu larut malam, dan peringatan bergambar di bungkus baru wajib sejak 2014. Indonesia juga termasuk sedikit negara yang belum meratifikasi konvensi pengendalian tembakau WHO. Semua itu fakta administratif yang membosankan, sampai kamu sadar bahwa itulah yang menentukan seberapa normal rokok terasa di sekitarmu.

Bagian yang tentang hari ini

Semua keyakinan di atas punya satu bentuk yang sama: sesuatu terasa aman karena terlihat lebih bersih, lebih halus, lebih modern, atau lebih mahal.

Sekarang lihat ke sekitarmu.

“Vape itu cuma uap air” sudah terbantah, karena yang keluar adalah aerosol berisi nikotin dan zat lain. “Dipanaskan, bukan dibakar” adalah klaim pabrik, sementara badan kesehatan menekankan bahwa paparan yang lebih rendah belum berarti risiko yang terbukti lebih rendah. Data jangka panjangnya masih terlalu muda untuk memberi jawaban, dan itu persis posisi rokok pada 1950-an.

Bukan berarti semuanya sama persis. Tapi pola berpikirnya identik, dan pola berpikir itulah yang dulu membuat orang menyalakan rokok di ruang tunggu rumah sakit.

Yang tidak berubah dari dulu sampai sekarang

Satu hal tidak berubah sejak zaman iklan dokter itu: yang paling menentukan bukan merek atau bentuk perangkatnya, melainkan berapa banyak nikotin yang masuk ke tubuhmu setiap hari.

Dan hampir tidak ada orang yang tahu angka itu. Perokok menebak jumlah batangnya, pengguna vape menebak jumlah isapannya, dan tebakan itu hampir selalu jauh di bawah kenyataan.

Puff Counter dibuat untuk menutup jarak itu: satu ketukan tiap isapan atau tiap batang, angka harian yang jujur, lalu rencana penurunan mingguan yang dihitung dari angka aslimu.

Dua menit hari ini

Tanya orang tua atau kakekmu satu pertanyaan: dulu boleh merokok di mana saja?

Jawabannya akan panjang, dan biasanya diakhiri kalimat yang sama: “dulu ya biasa aja”.

Lalu hari ini, hitung saja konsumsimu tanpa menguranginya sedikit pun. Dua puluh tahun lagi, angka itu yang akan terdengar mengejutkan buat dirimu sendiri.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Benarkah dulu dokter ikut mengiklankan rokok?

Benar. Antara 1946 dan 1952 ada kampanye iklan besar di Amerika Serikat yang memakai slogan bahwa lebih banyak dokter merokok merek tertentu dibanding merek lain. Iklan itu tidak pernah membuktikan rokok aman, hanya memakai citra dokter untuk menenangkan kecurigaan publik yang mulai tumbuh.

Apakah filter rokok membuat rokok lebih aman?

Tidak. Filter mengubah rasa dan tampilan, bukan sifat asapnya. Banyak perokok justru mengisap lebih dalam dan lebih sering pada rokok berfilter atau rokok light, sehingga jumlah zat berbahaya yang masuk tidak berkurang. Tidak ada tingkat konsumsi rokok yang aman menurut WHO.

Kenapa dulu ada bagian merokok di pesawat dan restoran?

Karena asap dianggap sekadar masalah bau dan kenyamanan, bukan masalah kesehatan orang lain. Bukti tentang bahaya asap bagi orang di sekitar baru menguat pada 1980-an. Sekarang WHO memperkirakan asap orang lain menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian per tahun pada orang yang tidak merokok.

Apakah vape akan dianggap konyol seperti ini juga nanti?

Sebagian tandanya sudah muncul. Klaim bahwa vape hanya uap air sudah dibantah, karena yang keluar adalah aerosol berisi nikotin dan zat lain. Data jangka panjang masih muda, dan itu persis situasi rokok pada 1950-an: belum terbukti aman bukan berarti aman.