Rehat ngerokok, ritual kantor terakhir yang dimaklumi
Delapan kali rehat ngerokok sehari itu hampir enam minggu kerja setahun. Yang bikin ketagihan bukan nikotinnya, tapi izin resmi untuk berhenti kerja sebentar.
Jawaban singkat
Rehat merokok bertahan di kantor bukan karena nikotinnya, tapi karena rokok adalah satu-satunya alasan yang diterima untuk berhenti bekerja, keluar ruangan, dan mengobrol. Delapan rehat tujuh menit sehari setara hampir satu jam kerja per hari. Solusinya bukan menghapus rehatnya, tapi mempertahankan semuanya kecuali rokoknya.
Delapan kali rehat ngerokok, masing-masing tujuh menit. Itu hampir satu jam per hari.
Dalam setahun kerja, kira-kira 230 jam. Hampir enam minggu kerja penuh, dihabiskan di parkiran belakang.
Dan ini bagian yang aneh: sebagian besar dari waktu itu bukan buat rokoknya. Rokok cuma surat izinnya.
Satu-satunya alasan yang diterima untuk berhenti kerja
Coba berdiri dari meja, jalan keluar gedung, dan diam sepuluh menit tanpa membawa apa-apa. Seseorang akan bertanya kamu ke mana.
Sekarang lakukan hal yang persis sama sambil memegang rokok. Tidak ada yang bertanya. Bahkan atasanmu pun ikut.
Itu keistimewaan yang tidak dimiliki kebiasaan lain di kantor. Rokok adalah satu-satunya alasan yang membuat kalimat “keluar bentar ya” tidak perlu dilanjutkan penjelasan apa pun.
Karena itu, kalau kamu berhenti merokok, yang hilang bukan cuma nikotin. Yang hilang adalah izin.
Yang sebenarnya kamu beli dengan sebatang rokok
Bongkar satu rehat ngerokok jadi bagian-bagiannya, dan kamu akan lihat betapa sedikitnya bagian rokok di dalamnya.
- Berhenti kerja tujuh menit tanpa perlu merasa bersalah.
- Keluar dari ruangan ber-AC, ganti udara, ganti pemandangan.
- Ngobrol tanpa agenda dengan orang yang mungkin tidak akan kamu ajak bicara di dalam.
- Berdiri, setelah berjam-jam duduk.
- Kopi, karena di Indonesia dua hal ini hampir tidak pernah dipisahkan.
- Dan di ujungnya, nikotin.
Enam hal, satu di antaranya adalah masalahnya. Lima sisanya justru bagus buat kamu.
Ini juga yang menjelaskan kenapa orang yang sudah berhasil berhenti berminggu-minggu tiba-tiba merokok lagi di kantor. Bukan karena ketagihannya kembali menyerang, tapi karena hari itu melelahkan dan tidak ada cara lain untuk keluar sebentar.
Yang dilakukan orang yang tidak merokok
Tidak ada.
Mereka tetap di meja. Makan siang di depan layar. Rehat mereka berbentuk membuka HP selama dua menit, yang sebenarnya bukan rehat sama sekali karena mata dan otaknya tetap bekerja.
Ada satu bagian lagi yang jarang dibicarakan terbuka: obrolan di tempat merokok itu nyata isinya. Kabar mutasi, keluhan yang tidak masuk rapat, kesepakatan kecil antar-divisi, bahkan lelucon yang membentuk siapa dekat dengan siapa. Orang yang tidak merokok memang lebih sedikit ikut dalam aliran informasi itu.
Jadi kekhawatiranmu masuk akal. Tapi kesimpulannya bukan “berarti aku harus tetap merokok”. Kesimpulannya adalah kamu harus tetap ikut rehatnya.
Rehat udara segar: sama persis, minus satu bagian
Cara paling mudah untuk tidak kehilangan lima bagian yang bagus adalah dengan tidak mengubah apa pun kecuali satu.
- Tetap keluar pada jam yang sama. Kalau selama ini jam 10.15 dan 15.30, tetap jam segitu. Tubuhmu sudah punya jadwal, jangan lawan jadwalnya, isi saja dengan hal lain.
- Ke tempat yang sama, dengan orang yang sama. Kamu boleh berdiri di lingkaran itu tanpa memegang apa pun. Beberapa hari pertama akan terasa canggung, lalu tidak lagi.
- Bawa sesuatu untuk tangan. Kopi, air, atau permen karet. Sebagian besar kesulitan minggu pertama itu soal tangan, bukan soal paru-paru.
- Jalan kaki, jangan berdiri diam. Tujuh menit jalan kaki menurunkan ketegangan dan mengalihkan keinginan, dan kebetulan durasinya sama persis dengan satu batang rokok.
- Beri nama. Sebut saja “rehat udara” atau apa pun yang kamu mau. Rehat yang punya nama jauh lebih sulit dipertanyakan orang, dan jauh lebih mudah kamu pertahankan sendiri.
Kalau kamu atasan
Ada satu keputusan kecil yang berdampak besar dan hampir tidak ada biayanya: buat rehat pendek jadi sah untuk semua orang, bukan cuma yang merokok.
Selama rehat tujuh menit cuma dimaklumi kalau ada asapnya, sistem di kantormu secara diam-diam memberi hadiah kepada kebiasaan yang paling ingin kamu kurangi. Dan orang yang sedang berusaha berhenti akan terus menghadapi pilihan antara merawat kesehatannya atau tetap berada di lingkaran informasi.
Angka yang mengubah cara pandang
Kembali ke hitungan tadi. Delapan rehat, tujuh menit, sekitar 250 hari kerja setahun: lebih dari 200 jam.
Yang membuat angka itu mengagetkan bukan besarnya, tapi karena tidak ada yang pernah menghitungnya. Setiap rehat terasa seperti tujuh menit yang tidak berarti apa-apa. Tujuh menit memang tidak berarti apa-apa. Dua ratus jam berarti banyak.
Persis seperti batangnya. Satu batang tidak terasa. Delapan batang sehari selama sepuluh tahun adalah hampir tiga puluh ribu batang, dan tidak ada satu pun di antaranya yang terasa seperti keputusan besar saat dinyalakan.
Itu sebabnya angka bekerja lebih baik daripada tekad. Puff Counter mencatat tiap batang atau tiap isapan dengan satu ketukan, lalu menurunkan batas harianmu pelan-pelan dari angka aslimu, bukan dari target yang kamu tetapkan waktu sedang penuh semangat di hari Minggu.
Dua menit hari ini
Besok di kantor, hitung saja rehatmu. Bukan batangnya dulu, rehatnya. Berapa kali kamu keluar, dan berapa menit sekali.
Lalu di rehat berikutnya, tetap keluar, tetap ke tempat yang sama, tapi bawa kopi saja. Sekali. Cuma untuk membuktikan satu hal ke dirimu sendiri: yang selama ini kamu tunggu setiap dua jam itu ternyata bukan rokoknya.
Kirim tulisan ini ke teman satu tim yang selalu ngajak kamu “keluar bentar”. Kalian berdua bisa tetap keluar bentar.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Kenapa rehat merokok susah ditinggalkan padahal sudah niat berhenti?
Karena yang hilang bukan cuma nikotin, tapi juga jeda kerja, udara luar, dan obrolan dengan orang yang sama setiap hari. Berhenti merokok tanpa mengganti tiga hal itu terasa seperti kehilangan sesuatu, dan rasa kehilangan itulah yang paling sering memicu batang berikutnya.
Berapa banyak waktu yang habis untuk rehat merokok?
Delapan kali rehat selama tujuh menit sudah hampir satu jam sehari. Dalam setahun kerja sekitar 250 hari, itu setara lebih dari 200 jam, atau hampir enam minggu kerja penuh. Perhitungan ini memakai angka konservatif, karena banyak orang rehat lebih sering dari itu.
Apa yang bisa menggantikan rehat merokok di kantor?
Pertahankan seluruh bentuknya dan buang satu bagiannya. Keluar ke tempat yang sama, pada jam yang sama, bersama orang yang sama, selama menit yang sama. Bawa air atau kopi. Yang membuat rehat itu berharga adalah jeda dan obrolannya, dan keduanya tidak butuh rokok.
Apakah tidak merokok bikin ketinggalan informasi di kantor?
Kekhawatiran itu masuk akal, karena banyak obrolan informal dan keputusan kecil memang lahir di tempat merokok. Jawabannya bukan kembali merokok, melainkan tetap ikut rehatnya. Kamu boleh berdiri di lingkaran yang sama tanpa memegang apa pun.