Kalau rokok baru ditemukan hari ini, apa akan legal?
Bayangkan mengajukan izin edar untuk produk yang membunuh separuh penggunanya. Eksperimen pikiran soal kenapa rokok masih ada, dan di mana posisi vape.
Jawaban singkat
Hampir pasti tidak. Rokok mengandung sekitar 7.000 zat kimia, sekitar 70 di antaranya karsinogen, dan menurut WHO membunuh hingga separuh penggunanya yang tidak berhenti. Tidak ada badan pengawas modern yang akan meloloskan produk konsumsi dengan profil seperti itu. Rokok bertahan karena sudah lebih dulu ada sebelum aturannya lahir.
Bayangkan kamu punya produk baru dan harus mempresentasikannya ke badan pengawas hari ini.
Kamu jujur di semua kolom formulir. Ini isinya.
Produk ini dihirup langsung ke paru-paru. Asapnya mengandung sekitar 7.000 zat kimia, sekitar 70 di antaranya diketahui menyebabkan kanker. Dipakai sesuai petunjuk, produk ini membunuh hingga separuh penggunanya jangka panjang. Ia juga membahayakan orang di sekitar yang tidak membelinya. Ia sangat adiktif, dan sebagian besar penggunanya mulai sebelum usia dua puluh.
Manfaat yang dijanjikan: meredakan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh produk itu sendiri.
Pertanyaannya cuma satu: menurutmu formulir ini lolos?
Produk lain ditarik dari pasar untuk hal yang jauh lebih kecil
Kita hidup di zaman ketika satu batch makanan ditarik dari rak karena label alergennya salah cetak. Satu model mobil dipanggil kembali karena cacat yang memengaruhi sebagian kecil unit. Satu mainan dilarang karena bagian kecilnya bisa tertelan.
Semua itu tindakan yang benar. Tapi tempatkan berdampingan dengan angka WHO: sekitar 8 juta kematian per tahun terkait tembakau, termasuk kira-kira 1,3 juta orang yang tidak pernah merokok tapi terpapar asap orang lain.
Tidak ada satu pun produk konsumsi lain yang akan diizinkan berdiri di dekat angka itu.
Jadi kenapa rokok masih ada?
Jawabannya bukan konspirasi, dan itu justru bagian yang menarik.
Rokok sudah menjadi produk massal jauh sebelum sistem pengawasan produk konsumsi modern terbentuk. Mesin pelinting rokok muncul pada akhir abad ke-19, konsumsinya meledak lewat dua perang dunia, dan bukti ilmiah yang benar-benar meyakinkan baru terkumpul pada 1950-an dan 1960-an.
Waktu bukti itu tiba, ratusan juta orang sudah memakainya setiap hari, jutaan orang bekerja di industrinya, dan negara-negara sudah bergantung pada pajaknya.
Menolak produk baru itu mudah. Menarik produk yang sudah dipakai separuh populasi pria di banyak negara itu hampir mustahil secara politik.
Inilah yang bisa disebut warisan bahaya: sesuatu tetap legal bukan karena aman, tapi karena ia lebih dulu datang daripada aturannya. Yang akhirnya dilakukan negara bukan melarang, melainkan mengatur di sekelilingnya. Pajak, peringatan bergambar, larangan iklan, batasan tempat merokok. Semua itu cara mengelola sesuatu yang tidak bisa lagi dibatalkan.
Ironi yang terjadi pada vape
Sekarang perhatikan apa yang terjadi pada produk nikotin yang benar-benar lahir di era modern.
Vape dan tembakau yang dipanaskan muncul ketika sistem pengawasan sudah ada. Hasilnya bisa ditebak: mereka langsung berhadapan dengan larangan rasa tertentu, pembatasan usia yang ketat, aturan kemasan, bahkan larangan perangkat sekali pakai di sejumlah negara. Aturannya berbeda-beda antarnegara dan berubah cepat.
Ini menghasilkan situasi yang ganjil. Produk yang lebih tua dan lebih mematikan menghadapi aturan yang relatif longgar karena sudah telanjur ada. Produk yang lebih baru menghadapi aturan yang jauh lebih cepat berubah.
Bukan berarti vape lantas aman. Bukti jangka panjangnya masih muda, dan badan kesehatan konsisten menekankan bahwa paparan yang lebih rendah belum berarti risiko yang terbukti lebih rendah. Yang ditunjukkan perbandingan ini cuma satu: seberapa ketat sesuatu diatur lebih banyak ditentukan oleh kapan ia lahir daripada oleh seberapa berbahaya ia.
Konteks Indonesia menambah satu lapis lagi. Indonesia termasuk sedikit negara yang belum meratifikasi konvensi pengendalian tembakau WHO, iklan rokok di televisi masih diizinkan pada jam larut malam, dan peringatan bergambar di bungkus baru wajib sejak 2014. Semua itu keputusan administratif yang terdengar membosankan, sampai kamu sadar itulah yang menentukan seberapa normal rokok terasa di sekitarmu sejak kecil.
Pertanyaan yang sebenarnya
Eksperimen pikiran ini sebetulnya tidak berujung pada pertanyaan hukum. Ujungnya pertanyaan pribadi.
Kalau produk ini benar-benar baru dan kamu melihat formulirnya hari ini, dengan semua kolom terisi jujur, apakah kamu akan mendaftar?
Ini langganan seumur hidup. Kamu membayarnya setiap hari, harganya naik hampir setiap tahun, kamu tidak bisa berhenti berlangganan tanpa melewati beberapa minggu yang tidak nyaman, dan manfaat utamanya adalah meredakan gejala yang ia sendiri ciptakan.
Sebagian besar orang tidak pernah mendaftar dengan sadar. Mereka mencoba satu batang di usia enam belas, di lingkaran orang yang mereka ingin diterima di dalamnya, dan pendaftarannya terjadi belakangan tanpa pernah ditandatangani.
Kabar baiknya: kalau kamu tidak pernah menandatangani, kamu juga tidak terikat.
Yang bisa kamu lakukan tanpa menunggu regulasi
Tidak ada gunanya menunggu negara mana pun menyelesaikan perdebatan ini. Perubahan yang paling cepat terjadi selalu di level satu orang, dan biasanya dimulai dari melihat angkanya sendiri.
Hampir tidak ada perokok atau pengguna vape yang tahu konsumsi hariannya dengan tepat. Tebakan orang hampir selalu jauh di bawah kenyataan, karena sebagian besar batang dan isapan tidak pernah melewati keputusan sadar.
Puff Counter dibuat untuk itu: satu ketukan tiap batang atau tiap isapan, angka harian yang jujur, lalu batas mingguan yang turun otomatis dari angka aslimu.
Dua menit hari ini
Isi formulir itu untuk dirimu sendiri. Tulis di catatan HP: berapa batang atau berapa isapan per hari, sudah berapa tahun, dan biayanya per bulan.
Lalu baca ulang seperti kamu sedang menilai pengajuan orang lain.
Kirim tulisan ini ke satu orang yang suka berdebat soal ini. Pertanyaannya cuma satu kalimat, dan hampir tidak ada yang bisa menjawab “iya, lolos”.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Kenapa rokok masih legal padahal terbukti mematikan?
Karena rokok sudah menjadi produk massal jauh sebelum sistem pengawasan produk konsumsi modern terbentuk. Sebuah produk yang sudah dipakai ratusan juta orang jauh lebih sulit ditarik daripada ditolak sejak awal. Yang dilakukan negara akhirnya bukan melarang, melainkan mengatur di sekelilingnya: pajak, peringatan, dan pembatasan iklan.
Berapa banyak zat berbahaya dalam asap rokok?
Konsensus kesehatan masyarakat menyebut sekitar 7.000 zat kimia dalam asap rokok, dengan sekitar 70 di antaranya diketahui bersifat karsinogen. Zat-zat itu terbentuk saat tembakau dibakar, jadi jumlahnya tidak berkurang berarti karena filter, rasa menthol, atau label ringan pada bungkusnya.
Apakah vape diatur lebih ketat daripada rokok?
Di sejumlah negara, ya, dan itu ironi yang nyata. Vape lahir setelah sistem pengawasan modern ada, jadi ia langsung menghadapi larangan rasa, pembatasan penjualan, atau larangan perangkat sekali pakai. Rokok lolos dari sebagian besar itu hanya karena sudah lebih dulu ada. Aturannya berbeda tiap negara dan berubah cepat.
Apakah ada negara yang mencoba melarang rokok sepenuhnya?
Ada beberapa upaya, termasuk gagasan larangan generasi yang melarang penjualan kepada siapa pun yang lahir setelah tahun tertentu. Perjalanannya berliku dan hasilnya berbeda-beda antarnegara, sebagian sempat disahkan lalu dicabut. Ini bidang yang berubah cepat, jadi selalu periksa aturan terbaru di negaramu.